• gambar
  • header

Selamat Datang di Website MI Muhammadiyah Kenteng (MIMUDAKU) Sentolo Kulon Progo

Pencarian

Kontak Kami


MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH KENTENG

NPSN : 60714003

Kenteng, Demangrejo, Sentolo, Kulon Progo, DIY


mimuhkenteng@gmail.com

TLP : 081225273948


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 91845
Pengunjung : 31655
Hari ini : 19
Hits hari ini : 108
Member Online : 0
IP : 3.229.117.149
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Workshop Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah se Kulon Progo dan Pengimbasan Kekhasan Literasi




Kulon Progo (MIM Kenteng) - Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Madrasah Ibtidaiyah Muhammdiyah se Kabupaten Kulon Progo melaksanakan sebuah workshop bersama dengan pengawas madrasah guna mempersiapkan kurikulum madrasah yang akan digunakan untuk menghadapi pembelajaran di tahun ajaran baru 2020/2021. Kepala MIM Kenteng Rujito,S.Pd.I, M.Pd menyebutkan bahwa “kegiatan workshop ini dilaksanakan di MI Muhammadiyah Nglinggo tepatnya di Nglinggo Barat, Pagerharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo pada hari Kamis (2/7/2020), acara dimuai pukul 09.00-12.00 WIB. Adapun peserta berjumlah 9 Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, guru dan staf MI Muhammadiyah Nglinggo, TIM media dari MI Muhmmadiyah Kenteng, dan Pengawas Madrasah Abdul Hamid Tarwoco”. Ungkap beliau.

Juminto Kepala MIM Grubug selaku master of ceremony dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa “ dalam kegiatan urusan kerumahtanggaan K3MI, selalu diadakan pertemuan sebulan sekali dan tempatnya bergantian di setiap madrasah. Kepala MIM Nglinggo Endang, memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua kepala madrasah yang datang mengahadiri undangan walaupun hanya via whatsapp groub. Pertemuan ini untuk menyamakan dakwah, sharing informasi madrasah muhammadiyah dari tingkat ranting, cabang, daerah dan wilayah. Memikirkan bersama hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan madrasah, ekstrakurikuler, intrakulikuler, dan berbagai kebutuhan madrasah yang berbeda, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing, harapannya dapat juga sebagai sarana memperluas komunikasi, dan pokoknya adalah penyamaan persepsi pada kurikulum yang akan dipakai madrasah kedepannya. Uji publik perwakilan madrasah yaitu dari MIM Serangrejo dan MIM Grubug, semua kamad MI sepakat untuk saling suport dan mendukung” Terang beliau.

Ketua K3MI Rujito,S.Pd.I,M.Pd memberikan beberapa informasi, yaitu “ungkapan rasa syukur, setelah sekian lama alhamdulilah bisa berkumpul kembali, setelah masa PPDB yang menuai banyak problematika, semua MI memiliki permasalah tersendiri dalam mendapatkan siswa, menjadi sebuah PR besar bagi madrasah. Sebuah gagasan baru tentang MIUMKU (Madrsah Ibtidaiyah Unggulan Muhammadiyah Kulon Progo) yang akan digagas bersama oleh tim Pengembang Madrasah dari semua Madrasah Muhammadiyah se Kulon Progo dalam rangka untuk membentuk jati diri kader muhammadiyah, insyallah akan lebih bagus, banyak pihak juga yang harus terlibat untuk  mendeklarasikan MIUMKU mulai dari Dinas Pendidikan, Bupati/ Wakil Bupati, Kementrian Agama, Paguyuban wali murid, Yayasan Muhammadiyah, Komite Madrasah, Pengawas Madrasah dan pihak pendukung lainnya.


Sedangkan dalam pengimbasan kekhasan literasi dilakukan kerjasama diantaranya mengacu pada semboyan SLI Kulon Progo yaitu Bahagia, Berlanjut dan Berbagi. Dengan budaya literasi maka diharapkan madrasah menjadi lebih maju. Banyak sekali macam-macam literasi yang dapat diterapkan di Madrasah, ada literasi buku, literasi budaya, litreasi seni, literasi religi dan masih banyak lagi” jelas beliau.

 

Abdul Hamid Tarwoco selaku pengawas madrasah juga menyampaikan tentang  “Penerapan janji pelajar muhammadiyah perlu digalakkan terutama di madrasah muhammadiyah, yang harus ditekankan dalam pendidikan madrasah adalah bahasa arab, kerena bahasa arab merupakan ruh untuk orang-orang islam dan bagain penting dari agama islam, syaratnya semua guru harus bisa bahasa arab. Penanaman jiwa tauhid juga perlu untk siswa madrasah muhammadiyah, syarat madrasah mau maju diantaranya yaitu wajib sarjana untuk gurunya minimal S1, setiap guru punya karya tulis berupa PTK sekolah, dan penerapan studi banding madrasah sebagai bahan percontohan yang bisa diterapkan di madrasah” jelasnya.,

“Rata-rata jumlah guru madrasah di Kulon Progo ini terdapat 38 guru yang sudah S2, tidak menutup kemungkinan bahwa bisa bersatu untuk menciptakan inovasi madrasah yang hebat, kerjasama guru dan kepala madrasah. Madrasah harus berprogram menjadi madrasah tahfidz. Madrasah tahfidz ini merupakan gagasan pertama dari Yogyakarta yang kemudian diusung sampai Kementrian Agama pusat.  Madrasah merupakan pengkaderan ulama islam, mujadid /pembaharu, diusahakan peserta didik RA hafal juz 30, MI juz 29,30, MTs hafal 3-5 juz,  MA hafal 10 juz. Madrasah harus punya nilai jual yang tinggi, membangun kepercayaan masyarakat yang tinggi, membangun prestasi tinggi, walau jumlah peserta didiknya sedikit tapi prestasinha bisa menjulang  tinggi setingkat nasional” imbuhnya

“Harus diadakannya perombakan menagerial di madrasah, jangan cuma jarkoni, mengingatkan diri sendiri adalah yang utama sebelum mengingatan orang lain., sukalah untuk menulis karena menulis itu wujud literasi jiwa. Guru muhammadiyah punya jurus utama yaitu semangat, dan banyak-banyaklah bergaul dengan orang-orang hebat, kepala madrsah itu tidak hanya diam tapi perlu melangkah maju. Banyak belajar dan  bergaul dengan orang-orang yang berprestasi. Manajemen perpustakaan dibenahi, kunci K13 adalah literasi, dan kuncinya ada di perpustakaan.” Tambahnya

”Kepala madrasah memiliki kewenangan penuh, sebisa mungkin semua guru yang ada diberdayakan, terutama guru yang masih memiliki semangat muda. Jadi guru itu harus rajin seperti petani, teliti seperti ilmuan, pinter seperti dokter “ pungkas beliau. (Koko)



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas